Skripsi: PENGETAHUAN DAN PERSEPSI SISWA TENTANG ORANG UTAN (Pongo pygmaeus L.)

 PENGETAHUAN  DAN  PERSEPSI  SISWA  TENTANG
ORANG UTAN (Pongo pygmaeus L.) DI SMA NEGERI
SE-KOTA JAMBI


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Meningkatnya populasi manusia yang demikian cepat, juga diiringi dengan meningkatnya konsumsi yang akhirnya mempercepat konversi (perubahan) hutan, lahan-lahan semak belukar dan lahan-lahan basah untuk pengembangan pertanian dan permukiman. Akibat yang tak terhindarkan adalah punahnya sejumlah tumbuhan dan binatang liar yang hidup di habitat alami tersebut. Bila spesies yang punah tersebut tidak terdapat di lokasi lain, maka perubahan habitat yang terjadi merupakan malapetaka yang memusnahkan keberadaan spesies tersebut di muka bumi.
Di Indonesia memiliki beberapa spesies hewan yang terancam punah, salah satunya adalah Orang Utan. Orang Utan di Indonesia tersebar di dua pulau yaitu pulau Sumatera dan pulau Kalimantan. Kedua pulau tersebut merupakan  perlindungan terakhir Orang Utan. Ada dua spesies Orang Utan yang secara genetik berbeda di kedua pulau tersebut: Orang Utan Sumatera (Pongo pygmaeus abelii) dan Orang Utan Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus). Dua spesies tersebut menunjukan ciri-ciri fisik yang sedikit berbeda. Orang Utan Sumatera memiliki rambut dan jenggot yang sedikit lebih panjang daripada Orang Utan Kalimantan. Ancaman utama bagi Orang Utan adalah perburuan dan hilangnya habitat yang menempatkan dua spesies dalam status terancam punah (Goodall, dkk., 2010:2).
Kepadatan Orang Utan Kalimantan lebih rendah dibandingkan dengan Orang Utan Sumatera hal ini dikarenakan produktifitas makanan di hutan Kalimantan lebih rendah dibandingkan di Sumatera. Selain itu, jumlah Orang Utan Kalimantan telah mengalami peningkatan hal ini dikarenakan adanya upaya konservasi yang dilakukan yang berlangung cukup lama dibandingkan di Sumatera. Populasi Orang Utan di Sumatera menurun setiap tahunnya (Sugardjito: 2010:5). Menurut IUCN, selama 75 tahun terakhir populasi Orang Utan Sumatera telah mengalami penurunan sebanyak 80% (Anonim, 2010a:1).
Dibandingkan dengan Orang Utan Kalimantan, Orang Utan Sumatera lebih rentan hidupnya. Hal ini disebabkan adanya perubahan fungsi hutan yang merupakan habitat asli Orang Utan di Sumatera menjadi lahan pertanian dan pemukiman. Sebagai contoh konversi hutan produksi eks Hak Pemanfaatan Hutan (HPH) PT Hatma Hutani di Kabupaten Tanjung Jabung Barat menjadi hutan tanaman industri akasia dan eukaliptus. Padahal kawasan tersebut selama ini menjadi bagian lokasi pelepas-liaran (reintroduksi) Orang Utan di Propinsi Jambi. Konversi menjadi HTI seperti ini  dikhawatirkan makin mengancam keberadaan Orang Utan (Anonim, 2009:1).
Untuk mendukung pelestarian Orang Utan perlu adanya dukungan dari berbagai lapisan masyarakat. Salah satunya dapat diupayakan dari segi pendidikan di sekolah, seperti menanamkan pemahaman yang baik mengenai Orang Utan kepada anak-anak sejak dini dengan cara memasukkan pengetahuan lingkungan ke dalam kurikulum pendidikan di sekolah. Dalam hal ini, materi mengenai konservasi, khususnya konservasi Orang Utan, menjadi salah satu bagian dari pendidikan pengetahuan lingkungan tersebut.
Menurut Affan (2010:1) tingkat kesadaran siswa yang berada di kota tentang lingkungan masih rendah hal ini disebabkan karena mereka berada di lingkungan yang tidak alami lagi. Begitu juga halnya dengan tingkat pengetahuan siswa tentang satwa liar termasuk di dalamnya Orang Utan. Mengingat anak-anak tersebut merupakan calon pemimpin masa depan yang akan mengembangkan kebijakan yang menentukan nasib Orang Utan, oleh karena itu penting untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat, terutama anak-anak sekolah tentang Orang Utan. Mengingat Propinsi Jambi merupakan salah satu wilayah yang menjadi habitat Orang Utan, oleh karena itu penting untuk melibatkan sekolah-sekolah yang ada di Jambi dalam upaya memberikan pemahaman yang baik mengenai Orang Utan. Dengan cara demikian diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan tindakan yang dapat membantu upaya pelestarian Orang Utan.
Berdasarkan uraian di atas peneliti melakukan penelitian dengan judul pengetahuan  dan  Persepsi  Siswa  tentang Orang Utan (Pongo pygmaeus l.) di SMA Negeri Se-Kota Jambi”. 

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.        Bagaimana pengetahuan siswa kelas XI SMA Negeri di Kota Jambi mengenai Orang Utan?
2.         Bagaimana persepsi siswa kelas XI SMA Negeri di Kota Jambi tentang keberadaan dan konservasi Orang Utan?
3.         Bagaimana hubungan antara pengetahuan dan persepsi siswa tentang Orang Utan?
1.3 Tujuan Penelitian
             Tujuan dari penelitian ini adalah:
1.         Untuk melihat pengetahuan siswa kelas XI SMA Negeri Kota Jambi mengenai Orang Utan.
2.         Untuk mengetahui persepsi siswa kelas XI SMA Negeri di Kota Jambi tentang keberadaan atau konservasi Orang Utan.
3.        Untuk melihat hubungan antara pengetahuan dan persepsi siswa tentang Orang Utan?

1.4 Kegunaan Hasil Penelitian
Kegunaan hasil penelitian ini adalah:
1.      Menambah khasanah ilmu pengetahuan dibidang biologi.
2.      Sebagai bahan masukan dalam mengembangkan program pendidikan konservasi di sekolah.
3.      Sebagai bahan masukan dalam mengembangkan kebijakan mengenai pendidikan konservasi di sekolah.

1.5 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
1.5.1 Ruang lingkup penelitian
          Agar penelitian ini terarah dan mencapai sasaran, maka ruang lingkup dari penelitian ini sebagai berikut:
1.         Siswa-siswi yang akan diteliti adalah siswa-siswi kelas XI SMA Negeri yang berada di bawah naungan Depdiknas yang terdapat di Kota Jambi.
2.         Jenis Orang Utan yang akan dianalisis adalah Orang Utan yang meliputi Orang Utan Sumatera (Pongo pygmaeus abelii) dan Orang Utan Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus).
3.         Pengetahuan siswa diukur melalui pemberian tes.
4.         Persepsi siswa diukur berdasarkan tanggapan yang diberikan melalui penyebaran angket.
1.5.2 Keterbatasan penelitian
          Keterbatasan penelitian dalam penelitian ini antara lain:         
1. Penelitian difokuskan pada pengumpulan data yang terkait dengan pengetahuan dan persepsi siswa mengenai Orang Utan.
2. Penelitian dilakukan dengan cara tes dan penyebaran angket kepada siswa serta peneliti melakukan wawancara guru dengan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.

II. METODE PENELITIAN


3.1 Rancangan Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yaitu peneliti berusaha memberikan gambaran informasi mengenai status suatu gejala yang ada menurut data kuantitatif yang diperoleh pada saat penelitian dilakukan (Sukardi, 2005:157). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri yang terdapat di Kota Jambi serta dua orang guru mata pelajaran biologi dan ilmu pengetahuan alam di masing-masing sekolah tersebut.

3.2  Populasi dan Sampel
Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri yang berada di Kota Jambi. Penentuan jumlah sampel dilakukan berdasarkan pada pendapat Arikunto (2006:134) yaitu apabila subjek penelitian kurang dari 100, lebih baik diambil semua sebagai sampel sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi dan jika subjeknya lebih besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau tergantung ketersediaan waktu, tenaga dan dana. Mengingat jumlah siswa kelas XI SMA Negeri di Kota Jambi cukup banyak (3.285 siswa), maka sampel siswa pada penelitian ini diambil 331 Siswa (10%). Pengambilan sampel dari populasi dilakukan secara acak (Sugiyono, 2010:82). Selain itu penelitian ini juga mewawancarai dua guru dari masing-masing sekolah sampel terpilih, terutama guru biologi atau guru ilmu pengetahuan alam. Jumlah keseluruhan guru yang diwawancarai sebanyak 22 orang.

3.3  Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2010 sampai dengan Maret 2011 dan bertempat di sejumlah SMA Negeri di Kota Jambi.

3.4  Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini berupa tes untuk melihat pengetahuan siswa dan angket untuk melihat persepsi siswa. Sedangkan untuk mendapatkan data tentang pendidikan lingkungan yang diterapkan di sekolah, peneliti menggunakan teknik wawancara dengan guru.

3.5    Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui empat cara yaitu sebagai berikut: Observasi, tes, penyebaran angket dan wawancara guru.

3.6    Analisis Data
Data diperoleh dilakuakan penskoran dan penilaian untuk melihat pengetahuan dan persepsi siswa terhadap Orang Utan. Langkah selanjutnya data akan dianalisis secara deskriptif yaitu statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya (Sugiyono, 2010:147). Analisis dilanjutkan dengan menghitung persamaan regresinya. Menurut Sugiyono, 2010:188) persamaan regresi digunakan untuk melakukan prediksi seberapa tinggi nilai variabel dependen bila nilai variabel independen dimanipulasi (diubah-rubah).

III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengetahuan siswa tentang Orang Utan (Pongo pygmaeus)
Pengetahuan siswa SMAN di Kota Jambi tentang Orang Utan dikelompokkan dalam 5 kelompok.  Kelompok pertama sebanyak 8 orang siswa (2,4%) termasuk ke dalam kategori siswa dengan pengetahuan yang sangat baik tentang Orang Utan. Kelompok kedua sebanyak 75 orang siswa (22,7%) memiliki pengetahuan yang baik tentang Orang Utan. Kelompok ketiga sebanyak 111 orang siswa (33,5%) memiliki pengetahuan yang cukup tentang Orang Utan. Selebihnya, yaitu sebanyak 73 orang siswa (22,1%) memiliki pengetahuan yang kurang tentang Orang Utan dan sisanya sebanyak 64 orang siswa (19,3%) tergolong dalam kategori gagal.
Berdasarkan hasil pengelompokkan diketahuai bahwa secara umum pengetahuan siswa SMAN di Kota Jambi tentang Orang Utan termasuk dalam kategori cukup. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa SMAN di Kota Jambi pada umumnya sudah mengetahui tentang Orang Utan, baik dari aspek ciri-ciri, klasifikasi, lokasi dan habitat, makanan, predator, perilaku, populasi, maupun ancaman bagi Orang Utan.

Hampir 100% siswa SMAN di Kota Jambi  bermukim di daerah perkotaan sehingga sangat mudah untuk mendapatkan informasi, baik melalui media cetak seperti koran, majalah dan lain-lain, maupun media elektronik seperti televisi dan internet. Selain itu, semua SMAN di Kota Jambi sudah memiliki jaringan internet sekolah tersendiri sehingga siswa bisa mengakses internet di sekolah tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan. Keterpaparan informasi inilah yang diperkirakan membuat siswa SMAN Kota Jambi memiliki pengetahuan tentang Orang Utan yang termasuk dalam kategori cukup. Salah satu faktor yang menentukan pengetahuan seseorang tentang suatu objek adalah keterpaparan informasi Anonim (2010b:1).
Dari hasil tes diperoleh pengetahuan siswa di Kota Jambi tentang Orang Utan cukup beragam. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dari perbedaan nilai rata-rata tingkat pengetahuan siswa per-sekolah. Dari semua SMAN di Kota Jambi hanya siswa SMAN 1 yang memiliki pengetahuan yang baik tentang Orang Utan. Pada enam sekolah lainnya pengetahuan siswanya tergolong dalam kategori cukup yaitu SMAN 2, SMAN 3, SMAN 4, SMAN 9, SMAN 10, dan SMAN 11. Sedangkan sisanya sebanyak empat sekolah, pengetahuan siswanya termasuk dalam kategori kurang yaitu siswa SMAN 5, SMAN 6, SMAN 7 dan SMAN 8. Secara umum rata-rata pengetahuan siswa SMAN di Kota Jambi tergolong ke dalam kategori cukup.
Skor rata-rata tes merupakan jumlah rata-rata item soal yang dijawab benar oleh siswa per-sekolah. Sedangkan nilai rata-rata tes merupakan hasil perhitungan dari skor rata-rata tes yang menggunakan rumus penilaian. Kolom terakhir berisi tentang keterangan dari nilai rata-rata tes yang berpedoman pada kriteria penilaian instrumen.
4.2 Persepsi siswa tentang Orang Utan (Pongo pygmaeus)
Persepsi siswa SMAN di Kota Jambi tentang Orang Utan dikelompokkan dalam 3 kelompok. Kelompok pertama sebanyak 22 orang siswa (6,7%) memiliki persepsi yang sangat baik tentang Orang Utan. Kelompok kedua sebanyak 203 orang siswa (61,3%) memiliki persepsi yang baik tentang Orang Utan. Kelompok ketiga sebanyak 106 orang siswa (32,1%) memiliki persepsi yang cukup tentang Orang Utan.
Berdasarkan hasil pengelompokkan diketahuai bahwa siswa SMAN di Kota Jambi memiliki persepsi yang baik mengenai Orang Utan. Tidak ada siswa yang memiliki persepsi yang termasuk dalam kategori kurang atau gagal tentang Orang Utan. Melihat persepsi siswa SMAN di Kota Jambi yang seperti ini berarti siswa-siswa tersebut sudah mengetahui arti penting Orang Utan sebagai spesies yang berperan dalam regenerasi hutan. Selain itu siswa juga mengetahui status konservasi dan peranan pendidikan melalui ilmu pengetahuan lingkungan guna melestarikan satwa langka termasuk di dalamnya Orang Utan.
            Rahmawaty, dkk., (2006:10) menyatakan bahwa pemahaman yang baik mengenai lingkungan serta komponen-komponen penyusun dari lingkungan tersebut termasuk didalamnya satwa langka seperti Orang Utan, membuat siswa berusaha menjaga kelestarian lingkungan. Pengetahuan mengenai lingkungan ini berguna jika siswa-siswi tersebut telah berbaur ke dalam lingkungan masyarakat sehingga diharapkan mereka bisa membagikan pengetahuannya kepada masyarakat lain untuk menjaga lingkungan. Selain itu, siswa juga tahu bahwa Orang Utan merupakan satwa langka yang dilindungi oleh undang-undang dan memiliki arti penting bagi regenerasi hutan.
Persepsi siswa di Kota Jambi tentang Orang Utan dari hasil penyebaran angket diperoleh persepsi yang hampir seragam, perbedaan persepsi siswa tidak terlalu tampak. Hasil pengamatan persepsi siswa SMAN di Kota Jambi menunjukkan bahwa rata-rata persepsi siswa tergolong ke dalam kategori baik.

4.3 Hubungan antara Pengetahuan dan Persepsi
Hasil analisis regresi yang menggunakan software SPSS menunjukkan terdapat hubungan yang positif antara pengetahuan siswa dengan persepsi siswa tentang Orang Utan. Hasil perhitungan menunjukkan koefisien kolerasi sebesar 0,739 dan koefisien determinasinya sebesar 0,546, maka konstribusi pengetahuan siswa terhadap persepsi siswa mengenai Orang Utan sebesar 54,6%, selebihnya yaitu 45,4% dipengaruhi oleh faktor lain seperti sikap, minat, perhatian, kesiapan, pengalaman, kebutuhan, kebudayaan, stimulus, motivasi, harapan dan emosi Setiabudi (2010:1).

4.4 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Lingkungan di Sekolah
            Hasil wawancara peneliti dengan guru mata pelajaran Biologi di setiap SMAN di Kota Jambi diketahui bahwa ada beberapa SMAN yang telah menerapkan ilmu pengetahuan lingkungan sebagai mata pelajaran muatan lokal. Kurang lebih ada tiga SMAN yang telah menerapkan ilmu pengetahuan lingkungan, yaitu SMAN 5, SMAN 9 dan SMAN 11. Sedangkan di SMAN lain, selain ketiga SMAN tersebut belum ada mata pelajaran ilmu pengetahuan lingkungan.




V. PENUTUP

5.1 Simpulan
    Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:
1.        Siswa SMAN Se-Kota Jambi rata-rata memiliki pengetahuan mengenai Orang Utan yang tergolong ke dalam kategori cukup. Hal ini disebabkan siswa SMAN Se-Kota Jambi sudah memiliki jaringan informasi yang baik mengenai isu-isu lingkungan dan komponen-komponen penyusun dari lingkungan itu sendiri, termasuk pengetahuan akan satwa langka seperti Orang Utan.
2.        Siswa SMAN Se-Kota Jambi rata-rata memiliki persepsi mengenai Orang Utan yang tergolong ke dalam kategori baik. Tidak ada siswa yang memiliki persepsi yang termasuk dalam kategori kurang atau gagal tentang Orang Utan.
3.        Hasil analisis regresi menunjukkan terdapat hubungan yang positif antara pengetahuan siswa dengan persepsi siswa tentang Orang Utan, dimana konstribusi pengetahuan siswa terhadap persepsi siswa mengenai Orang Utan sebesar 54,6%.
4.        Hasil wawancara peneliti dengan guru mata pelajaran Biologi di setiap SMAN di Kota Jambi diketahui bahwa ada tiga SMAN yang telah menerapkan Ilmu Pengetahuan Lingkungan Hidup sebagai mata pelajaran muatan lokal, yaitu SMAN 5, SMAN 9 dan SMAN 11. Sedangkan di SMAN lain, selain ketiga SMAN tersebut belum ada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Lingkungan Hidup. Dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan lingkungan tersebut belum ada materi mengenai konservasi Orang Utan.
5.2 Saran-saran
Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian, maka dapat disarankan hal-hal sebagai berikut :
1.      Untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang pengelolaan lingkungan khususnya konservasi Orang Utan, melalui jalur pendidikan formal perlu dilakukan pengembangan materi muatan lokal tentang pengetahuan lingkungan yang di dalamnya terdapat pengetahuan konservasi. Dengan demikian diharapkan siswa dapat memperoleh bekal pengetahuan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah dimana mereka berada. Hal ini tentu diserahkan kepada instansi terkait terutama Depdiknas beserta jajarannya untuk menentukan kebijakan selanjutnya.
2.      Sekolah sebaiknya bekerja sama dengan berbagai Instansi seperti Dinas Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (BAPEDALDA), Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), Frankfurt Zoological Society (FZS), Yayasan Indonesia Hijau, FLEGT (Forest Law Enforcement, Governance and Trade) dan Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) serta yang berkaitan dengan lingkungan dan perlindungan satwa langka di Indonesia serta di negara-negara lain yang mempunyai areal hutan yang luas, sehingga hutan yang ada di Indonesia tetap terjaga.
3.      Pihak sekolah agar menyediakan atau menambah sarana untuk menunjang pembentukan persepsi siswa terhadap pelestarian lingkungan dan kecintaan siswa terhadap komponen penyusun lingkungan.



DAFTAR PUSTAKA

Affan. 2010. Diakses Pada Tanggal 13 November 2010. Peningkatan Kesadaran Lingkungan. http://affan-enviro.com

Anonim, 2008. Diakses pada tanggal 11 Oktober 2011. Deskripsi Orang Utan. www.ALIVEFP3.org

---------. 2009. Diakses pada tanggal 29 Januari 2010. Australia Danai Konservasi Orang Utan di Jambi. http://sains.kompas.com/

---------, 2010a. Diakses pada tanggal 3 Februari 2010. Orangutan. www.theforestforever.com

---------, 2010b. Diakses pada tanggal 13 November 2010. Definisi Pengetahuan: http://id.wikipedia.org/wiki/

---------, 2010c. Diakses pada tanggal 13 November 2010. Definisi Persepsi: http://id.wikipedia.org/wiki/

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta: Jakarta

Arikunto, S. 2008. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara: Jakarta

Barnhart, C . 1997. Dictionary. Scoot foresman and company. Chicago: Glenview illinois

Boyce, C dan Neale. 2006. Diakses pada tanggal 25 Agustus 2010. Conducting In-depth Interviews: A Guide for Designing and Conducting In-Depth Interviews for Evaluation Input. http://www.pathfind.org/

Depdikbud. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke-4. Jakarta: Balai Pustaka

Goodall, Jane., Edward O Wilson., Djamaludin Suryohadikusumo., Suwana B Gauntlett., 2010. Diakses pada tanggal 4 Juli 2010. Orangutan Conservancy. http://www.orangutan.com/

Notohadiprawiro, T. 2006. Diakses pada tanggal 14 January 2010.  Pendidikan Lingkungan. http://www.soil.faperta.ugm.ac
Nurdin, M. 2005. Persepsi dan Sikap Siswa SMUN 69 Pulau Pramuka terhadap Pelestarian Pemanfaatan Ekosistem Sumberdaya Pesisir dan Laut. Falsafah Sains. PPS (703): 24

Rahmawaty., Khairida., dan Eva Siagian. 2006. Persepsi Masyarakat Terhadap Upaya Konservasi di Taman Hutan Raya Bukit Barisan. USU Repository: 10

Setiabudi, A. 2010. Di Akses Pada Tanggal 13 November 2010. Definisi Persepsi: http://id.shvoong.com

Subagyo, J. 2006. Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek. PT Rineka Cipta: Jakarta

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta: Bandung

Sukardi. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Praktiknya. PT Bumi Aksara: Jakarta

Tamrin, A. 2008. Diakses pada tanggal 18 November 2010. Pendidikan Lingkungan Hidup Sebagai Salah Satu Mata Pelajaran di Sekolah. http://agtamrin.staff.-fkip.uns.ac.id

Undang-Undang No. 5 tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya

Uno, H.B. 2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Analisis di Bidang Pendidikan. PT Bumi Aksara: Jakarta
»»  continue...

Cara Membuat Makalah

Membuat makalah tidak segampang yang selalu kita pikirkan, banyak sekali orang-orang yang terkadang bingung bagaimana cara membuat makalah yang baik dan benar, bagi temen-temen yang masih bingung dalam membuat makalah ini ada sedikit tips agar temen-temen sekalian tidak bingung dalam membuatnya. ada banyak cara agar makalah yang kita buat selalu dalam khazanah bahasa indonesia yang tepat, bagi yang belum paham cari aja di google dengan keyword Cara Membuat Makalah.
»»  continue...

Pasang Iklan Gratis

Promosikan segala usaha atau apapun 
yang ingin 
anda promosikan di blog ini gratis, ini adalah 
layanan sosial kami. Salam blogger....

Nama Kamu*

Tulis email mu*

Tentang apa*

Deskripsikan iklan mu*

Alamat blog mu

Kalau ada gambar nya upload di sini

Website

Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[Refresh Image][What's This?]
Powered byEMF Web Form
»»  continue...

Teori Ekonomi Tentang Modal

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Teori pembangunan mengerucut pada dua buah teori besar, yaitu teori modernisasi dan teori dependensi. Dua teori ini saling bertolak belakang dan merupakan sebuah pertarungan paradigma hingga saat ini. Teori modernisasi merupakan hasil dari keberhasilan Amerika Serikat dalam membawa pembangunan ekonomi di negara-negara eropa. Sedangkan kegagalan pembangunan di Afrika, Amerika Latin dan Asia menjadi awal lahirnya teori dependensi
Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhanekonomi (economic growth); pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancarproses pembangunan ekonomi.
Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan GNP riil di negara tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Perbedaan antara keduanya adalah pertumbuhan ekonomi berhasilannya lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan dan tingkat output produksi yang dihasilkan, sedangkan pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan produksi, tetapi juga terdapat perubahan-perubahan dalamstruktur produksi dan alokasi input pada berbagai sektor perekonomian seperti dalam lembaga, pengetahuan, sosial dan teknik.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan pembangunanekonomi, namun pada hakikatnya faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu faktor ekonomi dan faktor nonekonomi.
Faktor ekonomi yang mempengaruhi pertumbuhan dan pembangunanekonomi diantaranya adalah sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya modal, dan keahlian atau kewirausahaan.
Sumber daya alam, yang meliputi tanah dan kekayaan alam seperti kesuburan tanah, keadaaniklim/cuaca, hasil hutan, tambang, dan hasil laut, sangat mempengaruhi pertumbuhan industri suatu negara, terutama dalam hal penyediaan bahan baku produksi. Sementara itu, keahlian dan kewirausahaan dibutuhkan untuk mengolah bahan mentah dari alam, menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih tinggi (disebut juga sebagaiproses produksi).
Sumber daya manusia juga menentukan keberhasilan pembangunan nasional melalui jumlah dan kualitas penduduk. Jumlah penduduk yang besar merupakan pasar potensial untuk memasarkan hasil-hasil produksi, sementara kualitas penduduk menentukan seberapa besar produktivitas yang ada.
Sementara itu, sumber daya modal dibutuhkan manusia untuk mengolah bahan mentah tersebut. Pembentukan modal dan investasi ditujukan untuk menggali dan mengolah kekayaan. Sumber daya modal berupa barang-barang modal sangat penting bagi perkembangan dan kelancaran pembangunan ekonomi karena barang-barang modal juga dapat meningkatkan produktivitas.
Faktor nonekonomi mencakup kondisi sosial kultur yang ada di masyarakat, keadaan politik, kelembagaan, dan sistem yang berkembang dan berlaku.
Ekonomi pembangunan merupakan suatu cabang ilmu ekonomi yang menganalisis masalah-masalah yang dihadapi oleh negara-negara sedang berkembang dan mendapatkan cara untuk mengatasi masalah-masalah tersebut agar negara-negara berkembang dapat membangun ekonominya dengan lebih cepat lagi. Salah satu objek kajian dari studi ekonomi pembangunan adalah modal atau kapital yang merupakan bentuk-bentuk kekayaan yang digunakan langsung atau tidak langsung dalam produksi untuk menambah output (Siagian, 1989). Sering juga dikatakan, modal atau kapital adalah barang-barang yang digunakan untuk produksi lebih lanjut.
Kapital atau modal berperan sebagai alat pendorong pembangunanekonomi yang meliputi investasi dalam pengetahuan teknik perbaikan dalam mutu pendidikan, kesehatan, dan keahlian. Dengan demikian modal atau kapital dalam rangka pembangunan, tidak hanya berwujud pabrik-pabrik dan perlengkapannya, namun sebenarnya meliputi human capital.

Biasanya ahli-ahli ekonomi mengatakan, adanya kemiskinan dan pembangunan ekonomi yang rendah di negara-negara sedang berkembang disebabkan oleh kekurangan modal atau kapital sebab mereka memandang modal mempunyai kedudukan terpenting dalam teori pembangunan ekonomi. Sebagian ahli ekonomi menganggap bahwa modal tidak saja mempunyai kedudukan terpenting bagi proses pembangunan, melainkan strategis pula, dalam arti proses pembentukan modal adalah saling pengaruh-mempengaruhi dan kumulatif.

Masalah pembentukan modal dapat ditinjau dari sudut permintaan maupun dari sudut penawaran akan modal. Dari sudut permintaan pembentukan modal bertalian dengan ada tidaknya daya tarik bagi usahawan atau wiraswasta untuk mempergunakan barang-barang modal dalam prosesproduksi. Dari sudut penawaran, pembentukan modal berhubungan dengan kemampuan masyarakat untuk menabung, tabungan kemudian dipakai untuk investasi dan pembentukan modal. Dalam hubungan dengan pembentukan modal ini, negara-negara sedang berkembang seolah-olah berada dalam lingkaran yang tak berujung pangkal, baik dilihat dari segi permintaan maupun penawaran akan modal (Siagian, 1989).

Pada saat ini, negara-negara sedang berkembang mengalami kemiskinan yang disebabkan oleh rendahnya persediaan modal. Dari uraian tersebut penulis ingin mengetahui penyebab rendahnya permintaan dan penawaran modal dan cara mengatasinya sebagai solusi pembangunan di Indonesia.

1.2       Rumusan Masalah

Apa yang menyebabkan rendahnya permintaan modal di Indonesia dan bagaimana cara mengatasinya?
Apa saja kaedah dan aturan tinjauan pembangunan dari segi ekonomi?
1.3 Tujuan Penulisan
Mengetahui penyebab rendahnya permintaan modal di Indonesia dan cara mengatasinya.
Cara meningkatkan pembangunan dari segi ekonomi
1.4 Manfaat Penulisan
Memperoleh gambaran dan menambah khasanah pengetahuan meningkatkan pembangunan dari segi ekonomi
Hasil penulisan ini diharapkan dapat berguna bagi kalangan akademis untuk melakukan penulisan selanjutnya.
Dapat membantu pemerintah serta para ekonom untuk memperbaiki pembangunan ekonomi di Indonesia.


BAB II
LANDASAN TEORI


Pembangunan ekonomi yang rendah di negara-negara sedang berkembang disebabkan oleh kekurangan modal atau kapital, sebab modal mempunyai kedudukan terpenting dalam teori pembangunan ekonomi(Kindleberger (1965) dalam Siagian (1989)). Dari pengertiannya, modal adalah suatu bentuk kekayaan yang digunakan langsung atau tidak langsung dalam produksi untuk menambah output (Siagian, 1989). Menurut Bourdieu (1986) modal tidak hanya sekedar alat-alat produksi, tetapi juga memiliki pengertian yang lebih luas dan dapat diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) golongan, yaitu: (a) modal ekonomi (economic capital), (b) modal kultural (cultural capital), dan (c) modal sosial (social capital). Modal ekonomi, dikaitkan dengan kepemilikan alat-alat produksi. Modal kultural terinstitusionalisasi dalam bentuk kualifikasi pendidikan. Sedangkan menurutColeman (1990) modal sosial (social capital), yaitu kemampuan masyarakat untuk bekerja bersama demi mencapai tujuan bersama dalam suatu kelompok dan organisasi.

Menurut Siagian (1989) pembangunan ekonomi di negara-negara sedang berkembang  dapat dilakukan dengan memperbaiki sistem pembentukan modal yang ditinjau dari sudut penawaran maupun dari sudut pernintaan akan modal. Dalam hubungan dengan pembentukan modal ini, negara-negara sedang berkembang seolah-olah berada dalam lingkaran yang tak berujung pangkal. Dari sudut penawaran modal dapat digambarkan demikian, kekurangan modal disebabkan karena kemampuan yang rendah dalam menabung, sedangkan tabungan yang rendah diakibatkan oleh pendapatan yang rendah. Pendapatanyang rendah merupakan pertanda produktivitas yang rendah, sedangkan produktivitas yang rendah sebagian besar karena kekurangan modal. Kekurangan modal ini merupakan suatu akibat dari tabungan yang rendah, dengan demikian lingkaran setan itu menjadi lengkap. Lingkaran setan ini juga berlaku di sudut permintaan akan modal. Permintaan akan modal investasi rendah disebabkan oleh daya beli yang rendah karena pendapatan yang rendah. Pendapatan yang rendah merupakan cerminan dari produktivitas yang rendah, dan produktivitas yang rendah disebabkan oleh modal yang dipergunakan dalam produksi rendah. Rendahnya modal yang dipakai disebabkan oleh daya beli masyarakat yang rendah, demikian seterusnya.

Berdasarkan analisa Schumpeter dalam Siagian (1989) yang dapat memecahkan lingkaran setan adalah golongan entrepreneur atau wiraswasta terutama innovating entrepreneur. Innovating entrepreneur adalah entrepreneur yang bersifat agresif dalam percobaan-percobaannya, dan selalu tertarik pada kemungkinan-kemungkinan untuk dapat dipraktikkan (Irawan dan Suparmako dalam Siagian (1989)).
 

BAB III
METODE PENULISAN


3.1       Jenis dan Sumber Data

Jenia dan sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka mengenai teori-teori yang berkaitan dengan tema.

3.2       Analisis Data

Data diperoleh dari hasil studi pustaka mengenai teori-teori yang berkaitan dengan tema dan kutipan dari berbagai dokumen yang kami analisis sejak pertama kali penyusunan makalah ini sampai makalah ini selesai. Kemudian setelah data terkumpul dilakukan suatu proses pemilihan, pemusatan, serta penyederhanaan data kasar untuk dibuat kesimpulan berdasarkan sub tema yang kami angkat. Dengan proses tersebut diharapkan akan menghasilkan suatu outline makalah akhir yang dapat memudahkan penulis untuk menyelesaikan makalah ekonomi pembangunan secara terstruktur.



BAB IV
PEMBAHASAN
 

Rendahnya permintaan modal dalam negara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia, disebabkan oleh hasrat golongan wiraswasta melakukan investasi rendah, sebab daya beli masyarakat atau keadaan pasar dalam negeri yang terbatas merupakan hambatan untuk permintaan akan modal. Seperti diketahui faktor-faktor yang menentukan fluktuasi investasi adalah : a) efisiensi marginal dari investasi, b) ongkos barang-barang modal, dan c) tingkat bunga.

Efisiensi marginal suatu investasi adalah jumlah pendapatan suatu barang modal yang akan diperoleh di masa depan selama usia barang modal tersebut atau sebagai rangkaian balas jasa sesuatu barang modal (Siagian, 1989). Balas jasa ini diperoleh dari hasil penjualan produksi setelah dikurangi dengan biaya atau harga pokok. Balas jasa ini haruslah lebih besar dari harga pembelian modal tersebut, jika tidak, tidak ada gunanya atau tidak menarik untuk menjalankan investasi. Biasanya balas jasa tiap tahun dinyatakan secara persentase. Persentase ini harus lebih besar dari tingkat bunga umum yang berlaku sebab kalau tidak, lebih baik dan lebih menguntungkan membungakan uang tersebut daripada membeli barang modal.

Umumnya tingkat bunga ini merupakan faktor pembanding mengenai balas jasa sesuatu investasi modal, dalam arti makin rendah tingkat bunga dibanding dengan tingkat keuntungan maka semakin menarik menjalankan investasi dan demikian sebaliknya, semakin tinggi tingkat bunga dibanding dengan tingkat keuntungan maka semakin kurang menarik mengadakan investasi.

Pada umumnya tingkat bunga di Indonesia tinggi sekali. Hal ini diperkuat dengan pendapat Alvin Hansen dalam Siagian (1989) yang mengatakan bahwa banyak investasi di negara-negara sedang berkembang tidak terlaksana, terutama karena tingkat bunga yang tinggi. Walaupun pendapatan ini cukup tajam, namun tidak seluruhnya dapat dibenarkan. Faktanya, penurunan tingkat bunga merupakan segi penting untuk investasi, tetapi unsur lain yang tidak kalah penting adalah kekurangan permintaan efektif dalam masyarakat sehingga balas jasa investasi masa depan sangat rendah. Oleh sebab itu, dari sudut permintaan akan modal di Indonesia, kekurangan tenaga beli merupakan penghambat yang lebih besar daripada tingkat bunga yang tinggi.

Pada awal pembahasan telah dipaparkan bahwa hasrat usahawan mengadakan investasi tertekan oleh faktor kekurangan tenaga beli, terutama jika ditinjau dari sudut investasi dalam satu cabang produksi tertentu. Hambatan ini dapat dikurangi jika investasi dijalankan secara bersamaan atau serentak di lapangan yang meliputi berbagai proyek. Penyebab hal tersebut adalah hasil investasi yang dapat memperluas pasar penjualan, dalam arti pekerja pada suatu proyek akan menjadi pembeli dari hasil proyek lain.

Pembangunan jenis ini disebut pembangunan yang seimbang. Pembangunan yang seimbang mempunyai arti yang bermacam-macam, seperti : a) keseimbangan antara pertambahan produksi bahan makanan dan pertambahan penduduk, b) keseimbangan antara produksi agraria dan industri, c) keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani, dan d) keseimbangan pembangunan antar daerah. Melalui pembangunan yang seimbang terutama antara produksi bahan makanan dan produksi industri, akan menciptakan kesempatan kerja yang luas untuk golongan penganggur dan setengah penganggur terutama di sektor pertanian.

Dengan cara ini produktivitas pertanian dapat dinaikkan, yang berarti juga dapat menaikkan tenaga beli dalam arti nyata. Kenaikan tenaga beli kaum tani ini, sebagian akan diberdayakan untuk membeli hasil industri seperti pakaian, alat-alat pertanian, dan sebagainya. Hal ini terjadi sebab dari sudut industri, golongan petani merupakan pasar hasil produksinya yang utama. Naiknya pasar bagi produksi industri akan mendorong tambahan investasi di sektor ini. Sebaliknya golongan industri merupakan pasar bagi sektor pertanian, dengan bertambah luasnya sektor industry akan mendorong kenaikan produksi di bidang pertanian, baik melalui usaha perluasan area maupun melalui intensifikasi. Kedua cara ini memerlukan peralatan dan hasil industri, sehingga mendorong tambahan investasi di bidang ini. Demikianlah pembangunan proyek-proyek ini saling melengkapi dan saling menunjang perkembangan masing-masing ke taraf yang lebih tinggi.

4.2       Rendahnya penawaran modal di Indonesia dan cara mengatasinya

Lambatnya proses pembangunan di Indonesia disebabkan oleh sedikitnya modal yang tersedia. Kurangnya modal disebabkan oleh kemampuan menabung yang rendah, kemampuan menabung yang rendah disebabkan oleh pendapatan yang rendah. Pendapatan yang rendah merupakan akibat dari produktivitas yang rendah, sedangkan produktivitas yang rendah merupakan akibat dari kekurangan modal dan hal ini disebabkan oleh kemampuan menabung yang rendah dan demikian seterusnya, sehingga lingkaran setan yang tidak berujung pangkal yang dialami menjadi lengkap (Siagian, 1989).

Tabungan yang dimaksud dalam hal ini adalah kemampuan dan kesediaan menahan nafsu konsumsi selama beberapa waktu, agar dikemudian hari terbuka kemungkinan untuk konsumsi yang lebih baik. Tabungan di dalam pembangunan ekonomi memiliki peranan penting dan strategis karena dapat menaikkan produktivitas dan proses pembentukan kemampuan.

Kenyataan di Indonesia, jumlah tabungan yang ada dan diinvestasikan sangat rendah, seringkali jumlah tabungan hanya cukup untuk mengimbangi pertambahan penduduk yang sedang berjalan. Demi mempercepat pembangunan penting sekali untuk memperbesar tabungan, baik atas kerelaan masyarakat maupun melalui kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal agar dapat mencapai tujuannya, harus disertai dengan kebijakan dividen dalam arti perlunya pengawasan negara atas pemakaian devisa yang dihasilkan dari perdagangan luar negeri.

Berhubung pembangunan ekonomi secara sadar, dimana investasi-investasi yang dijalankan diarahkan untuk menambah produksi dan produktivitas dalam masyarakat, di pihak lain devisa adalah bagian yang penting dari unsur-unsur produksi suatu negara. Oleh karena itu, pengawasan penggunaan devisa merupakan salah satu kebijakan Negara yang sangat penting. Pengawasan devisa ditujukan agar pemakaian devisa dilakukan dengan baik, dengan demikian dapat dilaksanakanlah suatu alokasi unsur produksi yang lebih baik. Kebijakan fiskal dan pengawasan devisa harus disertai dengan kebijakan yang mengatur unsur-unsur produksi yang ada dalam masyarakat digunakan secara efektif. Agar tujuan dapat tercapai perlu disusun suatu rencana pembangunan yang rapi dan teratur. Rencana tersebut harus memperlihatkan tujuan-tujuan pembangunan, lapangan-lapangan investasi, kebijaksanaan negara di bidang keuangan dan besarnya jumlah investasi. Kemudian diperlukan juga rencana pembangunan yang bertul-betul bersifat rasional-nasional, dalam arti memperhatikan kaitan antar masing-masing sektor, memperhatikan kemampuan pembiayaan sehingga dapat ditentukan skala prioritas, dengan demikian pemborosan dapat dihindari.


BAB V
PENUTUP


5.1       Kesimpulan

Kapital atau modal sebagai alat pendorong pembangunan ekonomi meliputi investasi dalam pengetahuan teknik perbaikan dalam mutu pendidikan, kesehatan, dan keahlian. Dengan demikian modal atau kapital dalam rangka pembangunan, tidak hanya berwujud pabrik-pabrik dan perlengkapannya, namun sebenarnya meliputi human capital. Maka dapat disimpulkan bahwa akumulasi modal sebagian besar ditentukan oleh permintaan modal, disamping juga oleh penawaran modal. Penawaran modal cenderung mengikuti permintaan untuk investasi. Pembentukan modal lebih ditarik oleh adanya permintaan dari para usahawan yang penuh semangat dan kemauan untuk maju daripada dorongan penawaran modal yang berasal dari pemilik uang yang pasif. Disinilah terlihat pentingnya peranan usahawan dalam rangka pembangunan ekonomi suatu negara, dan terlihat perlunya mendorong timbulnya golongan ini.

5.2       Saran

Investasi ditujukan untuk memajukan pembangunan ekonomi di Indonesia selanjutnya, maka pertimbangan kriteria investasi seharusnya diarahkan kepada sektor-sektornya yang “growing points” dalam perekonomian, yaitu pada bidang atau lapangan yang dapat memberi perkembangan yang lebih cepat, membutuhkan investasi tambahan yang cukup besar tetapi mempunyai permintaan yang sudah tersedia. Hal tersebut akan memberikan external economies yang sangat penting bagi industri-industri lainnya yang ada dan akan menimbulkan permintaan produk suplementer dan jasa. Dengan kata lain, investasi itu harus diarahkan sedemikian rupa sehingga memajukan integrasi horizontal dan vertikal dalam proses produksi.


DAFTAR PUSTAKA


Bourdieu, P. 1986. The Form of Capital. In J. Richardson (Ed). Handbook of Theory and Research for Sociology of Education. New York: Greenwood Press.

Coleman, J. 1990. Foundations of Social Theory. Cambridge Mass: Harvard University Press.

Kamaluddin, Rustian. 1987. Beberapa Aspek Pembangunan Nasional dan Pembangunan Daerah. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Siagian, H. 1989. Pembangunan Ekonomi dalam Cita-Cita dan Realita. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti

»»  continue...